Tags

PENGEMBANGAN METAKOGNISI  DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA

disampaikan oleh : Dr. Theresia Laurens

dalam Seminar Nasional Matematika Juli 2011


PENDAHULUAN

Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu proses yang kompleks yang memerlukan penanganan yang professional,karena tidak hanya dibutuhkan penguasaan terhadap  keterampilan-keterampilan  untuk mengajar tetapi juga penguasaan terhadap apa yang diajarkannya.   Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran bukan merupakan suatu hal yang mudah, karena keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh proses pembuatan dan pelaksanan keputusan . Pengambilan keputusan dalam memilih strategi, memilih pendekatan materi serta keputusan untuk melaksanakan apa yang dipilih  merupakan proses yang perlu dilakukan guru.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Hunter (2004)  bahwa :pembelajaran didasarkan pada premis bahwa guru adalah pengambil keputusan.  Seorang guru perlu mempertimbangkan banyak hal dan kemudian memutuskan untuk memilih salah satu yang yang terpenting,   baik dalam membuat perencanaan, melakukan pengajaran dan mengevaluasi hasil pembelajaran yang dilakukan.   Demikian juga dalam proses belajar, seorang pebelajar yang  baik akan mengawali aktifitas belajarnya dengan merencanakan  apa yang akan dilakukannya ketika ia belajar, dan akan memutuskan apakah ia menguasai apa yang telah dipelajarinya.  Pembelajaran yang terjadi merupakan suatu aktifitas yang melibatkan proses reflektif terhadap apa yang dilakukan. Ini menunjukkan bahwa proses reflektif atau perenungan merupakan sebuah “tool” yang sangat berguna dan perlu dimiliki  setiap tenaga pengajar maupun pebelajar.

Apabila ditinjau dari sudut pandang pedagogic, maka refleksi atau perenungan pada dasarnya adalah pilar utama metakognisi, sehingga pengambilan keputusan  yang berkaitan dengan pembelajaran  akan efektif bila didasarkan atas pertimbangan yang bersifat metakognisi.

             Metakognisi merupakan konsep penting dalam teori kognisi yang secara sederhana didefinsikan sebagai “memikirkan  kembali  apa yang telah dipikirkan”, bahkan ada ahli yang menghubungkan metakognisi dengan fungsi eksekutif kontrol atau pemrosesan informasi. Walaupun pendefinisiannya berbeda, namun secara umum  metakognisi merupakan kesadaran atau pengetahuan seseorang terhadap proses dan hasil berpikirnya (kognisinya) serta kemampuannya dalam mengontrol dan mengevaluasi proses kognitif tersebut. Menurut Flavell (Livingstone(1979),  de Soete (2004), Gama (2004), Panoura (2006)) metakognisi terdiri dari pengetahuan metakognitif  dan pengalaman atau pengarahan metakognitif  Pengetahuan metakognitif merupakan interaksi antara tiga variabel yakni variabel individu (person variable), variabel strategi (strategy variable), dan variabel tugas (task variable). Beberapa peneliti juga mengelompokkan keyakinan diri dalam komponen pengetahuan metakognitif, dan pengalaman menggunakan proses kognitif dikelompokkan dalam pengalaman metakognitif, karena pengalaman ini akan memunculkan kesadaran terhadap apa yang kita pikirkan. Pengalaman metakognitif sering di sebut juga sebagai strategi metakognitif yang terdiri dari perencanaan, pemonitoran dan pengevaluasian  terhadap proses kognitif kita sendiri.

Dalam hubungannya dengan pembelajaran matematika metakognisi dapat berperanan dalam membantu siswa menyelesaikan masalah yang dihadapi.   Menurut  Schoenfeld (1992) terdapat 3 aspek metakognisi yang berbeda yang relevan dengan dalam pembelajaran matematika, yaitu: (1).  Keyakinan dan Intuisi (beliefs and intuitions). Memiliki Ide-ide tentang matematika yang disiapkan untuk menyelesaikan matematika dan bagaimana ide-ide tersebut membentuk cara untuk memecahkan masalah, (2) Pengetahuan seseorang tentang proses berpikirnya, dalam hal ini bagaimana seseorng menguraikan pemikirannya secara tepat. Di sini dibutuhkan pemahaman tentang apa yang diketahuinya, dan bagaimana menyelesaikan tugas yang dibuat, serta (3). Kesadaran diri (Self awareness) atau Pengaturan diri (Self Regulation).  Bagaimana seseorang mengontrol apa yang telah dilakukannya, masalah yang telah diselesaikan dan bagaimana baiknya ia menggunakan hasil pengamatan untuk menyelesaikan masalahnya.

Aspek-aspek metakognisi yang dikemukakan tumbuh dan berkembang dalam diri setiap individu, sejak kecil. Hal ini dikemukakan oleh Vennman, dkk (2006) bahwa antara usia 3 dan 5 tahun  metamemori dan  pengetahuan metakog nitif mulai berkembang dan berlangsung seiring perkembangan usia, sedangkan keterampilan metakognitif berkembang antara 8 dan 10 tahun dan berkembang pada saat-saat dibutuhkan. Dengan demikian pada usia sekolah, anak-anak sudah bisa memanfaatkan metakognisi mereka bahkan bisa ditumbuhkembang melalui interaksi dengan orang lain.

Dalam hubungaannya dengan pembelajaran matematika, pemanfaatan metakognisi dapat dilihat ketika siswa diminta untuk mengemukakan ide-ide matematika, atau berdiskusi dalam kelompok. Aktifitas metakognitif akan terjadi jika ada interaksi antara beberapa individu yang membicarakan suatu masalah. Dalam proses penyelesaian masalah matematika siswa tentunya memahami masalah, merencanakan strategi penyelesaian, membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan, serta melaksanakan keputusan tersebut. Dalam proses tersebut mereka seharusnya memonitoring dan mengecek kembali apa yang telah dikerjakannya. Apabila keputusan yang diambil tidak tepat, maka mereka seharusnya mencoba alternatif lain atau membuat suatu pertimbangan. Proses menyadari adanya kesalahan, memonitor hasil pekerjaan serta mencari alternatif lain merupakan beberapa aspek-aspek metakognisi yang perlu dalam penyelesaian masalah matematika.

Gambaran di atas menunjukkan bahwa peranan metakognisi sangat penting dalam proses penyelesaian masalah maupun dalam proses pembelajaran matematika. Kenyataan yang terjadi dalam banyak kelas matematika adalah pebelajar kurang memanfaatkan metakognisi mereka ketika menyelesaikan masalah, sehingga mereka tidak memahami apa yang dipelajarinya. Melalui aktifitas pembelajaran yang dirancang dengan baik, akan muncul aspek-aspek metakognisi yang sangat membantu pebelajar dalam memahami materi yang dipelajari maupun menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Permasalahan yang akan dibahas melalui tulisan ini adalah bagaimana mengembangkan metakognisi pebelajar dalam pembelajaran matematika. Pengembangan dimaksud adalah proses pemanfaatan berbagai strategi yang dapat mengaktifkan  metakognisi pebelajar pada saat berlangsungnya proses pembelajaran khususnya pada pembelajaran matematika.

PEMBAHASAN

Pengertian Metakognisi.

            Metakognisi merupakan suatu istilah yang dimunculkan oleh beberapa ahli psikologi sebagai hasil dari perenungan mereka terhadap kondisi mengapa ada orang yang belajar dan mengingat lebih dari yang lainnya.  Metakognisi terdiri dari awalan  ”meta” dan  kata ”kognisi”. Meta merupakan awalan untuk kognisi yang artinya ”sesudah” kognisi. Awalan ini digunakan Flavell (1976) untuk memperkenalkan istilah metamemori dalam penelitiannya tentang proses ingatan anak. Menurut Anderson dan Krathwohl (2001), penambahan awalan “meta” pada kata kognisi untuk merefleksikan ide bahwa metakognisi adalah “tentang” atau “di atas” atau “sesudah ” kognisi. Dengan demikian secara harfiah metakognisi diartikan sebagai kognisi tentang kognisi, pengetahuan tentang pengetahuan atau berpikir tentang berpikir.  Di samping pengertian metakognisi sebagai berpikir tentang apa yang dipikirkan, ada peneliti yang menghubungkan istilah ini dengan pemikiran yang bersifat reflektif (deSoete, 2001). Kata reflektif berasal dari kata ”to reflect” artinya ”to think about”, sehingga dapat dikatakan bahwa pengertian metakognisi hampir sama dengan pengertian perefleksian terhadap apa yang dipikirkannya. Pengertian yang sama juga dikemukakan Soedjadi (2007) bahwa berpikir reflektif lebih cenderung ”ke arah diri” atau lebih cenderung ke arah metakognisi.

Istilah metakognisi yang diperkenalkan Flavell mendatangkan banyak perdebatan dalam pendefinisiannya. Arti metakognisi tidak selalu sama di dalam berbagai macam bidang penelitian psikologi, begitu juga tidak bisa diterapkan pada satu bidang psikologi saja. Ketidakkonsistenan ini muncul karena para peneliti mendefinisikannya sesuai dengan bidang penelitiannya. Menurut Flavell (Yong & Kiong, 2006), “… metacognition refers to one’s knowledge concerning one’s own cognitive processes and products or anything related to them, …..metacognition refers, among other things, to the active monitoring and consequent regulation and orchestration of these processes in relation to the cognitive objects or data on which they bear, usually in the service of some concrete goal.” Penjelasan ini menunjukkan bahwa Flavel mendefinisikan aspek pertama dari metakognisi sebagai pengetahuan seseorang terhadap proses dan  hasil kognitifnya atau segala sesuatu yang berhubungan dengannya, kemudian aspek kedua dari metakognisi didefinisikan sebagai pemonitoran dan pengaturan  diri terhadap aktivitas kognitif sendiri.

Schoenfeld (1992) mendefinisikan metakognisi sebagai berikut: “metacognition is thinking about our thinking and it comprises of the following three important aspects: knowledge about our own thought processes, control or self–regulation, and belief and intuition.  Pengertian ini menunjukkan bahwa metakognisi diartikan sebagai  pemikiran tentang pemikiran kita sendiri yang merupakan interaksi antara tiga aspek penting  yaitu: pengetahuan tentang proses berpikir kita sendiri, pengontrolan atau pengaturan diri, serta keyakinan dan intuisi). Interaksi ini sangat penting karena pengetahuan kita tentang proses kognisi kita dapat membantu kita mengatur hal-hal di sekitar kita  dan menyeleksi strategi strategi untuk meningkatkan kemampuan kognitif kita selanjutnya. Misalnya kita menyadari bahwa kita sering lupa atau kita kurang memahami suatu konsep matematika  dan kita sadar bahwa konsep itu lebih sulit dibandingkan dengan konsep yang lain, dan untuk itu kita perlu memilih cara tertentu (misalnya dengan menggaris bawahi pengertian dari konsep tersebut ) yang menurut kita lebih membantu kita memahami atau mengingat kembali apa yang kita lupa tadi.

Berdasarkan pengertian di atas maka dapat dikatakan bahwa metakognisi mengacu pada pengetahuan atau kesadaran seseorang terhadap proses  dan hasil berpikirnya. Metakognisi tidak sama dengan kognisi, misalnya keterampilan yang digunakan untuk membaca suatu teks berbeda dengan keterampilan memonitor pemahaman  terhadap teks tersebut. Metakognisi mempunyai kelebihan dimana seseorang mencoba merenungkan cara berpikir atau merenungkan proses kognitif yang dilakukannya.  Dengan demikian aktifitas seperti merencanakan bagaimana pendekatan yang diberikan dalam tugas-tugas pembelajaran, memonitor kemampuan dan mengevaluasi rencana dalam rangka melaksanakan tugas merupakan sifat-sifat alami dari metakognisi.

                    Secara umum metakognisi memiliki komponen-komponen yang disebut sebagai pengetahuan metakognisi dan pengalaman metakognisi. Pengetahuan metakognisi adalah pengetahuan yang digunakan untuk mengarahkan proses berpikir kita sendiri. Pengarahan proses berpikir ini dapat dilakukan melalui aktivitas perencanaan (planning), pemonitoran (monitoring) dan pengevaluasian (evaluation).  Aktivitas aktivitas ini disebut juga sebagai strategi metakognitif atau keterampilan metakognitif yang  dapat membantu dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Misalnya dalam penyelesaian  masalah matematika  ketika pengetahuan metakognitif terhadap suatu tujuan tertantang maka akan melahirkan pengalaman metakognitif berupa perasaan sulit karena pencapaian tujuan tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika menyadari tantangan tersebut dan pentingnya masalah tersebut diselesaikan,dan timbul kesadaran untuk menyelesaikan dengan mencari berbagai strategi, maka hal ini menunjukkan adanya pemanfaatan aktifitas metakognitif.

Dalam hubungannya dengan penyelesaian masalah matematika, beberapa peneliti (Yong & King, 2006; Panoura, 2005; Gama, 2004) mengemukakan bhawa keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan masalah turut dipengaruhi oleh aktivitas metakognisinya. Penyelesaian masalah dalam matematika merupakan suatu proses mental yang kompleks yang memerlukan visualisasi, imajinasi, manipulasi, analisis, abstraksi dan penyatuan ide. Dalam proses penyelesaian masalah matematika, terjadi interaksi antara aktivitas kognitif dan metakognitif. Aktivitas kognitif terbatas pada bagaimana informasi diproses untuk mencapai tujuan, sedangkan aktivitas metakognitif penekanannya pada kesadaran seseorang terhadap apa yang dilakukannya. Penyelesaian masalah akan diawali dengan bagaimana siswa mengenali masalah tersebut, misalnya dengan membangun representasi mental dari masalah yang dibaca, memutuskan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut sampai dengan bagaimana mengevaluasi hasil yang dibuatnya.

  Hubungan aktivitas kognitif dan metakognitif dikemukakan oleh Kayashima dan Inaba (2007) dalam suatu model yang disebut sebagai model aktifitas metakognitif selama berlangsungnya proses penyelesaian masalah. Model ini menggambarkan bagaimana aktifitas kognitif yang diawali dari mengobservasi masalah sampai dengan menemukan jawaban.  Kemudian untuk membentuk aktivitas metakognitif pebelajar perlu mengenali tujuan dan proses dari aktivitas kogntif. Selama proses penyelesaian masalah berlangsung, pebelajar mengobservasi pemikirannya pada tataran kognitif untuk mengevaluasi proses tersebut dan mengarahkan aktivitas kognitifnya. Ia mengevaluasi apakah proses penyelesaian masalah berjalan dengan baik atau tidak. Jika proses tersebut diputuskan ”tidak baik”, maka secara berhati-hati pebelajar menjejaki kembali aktivitas kognitifnya untuk memeriksa proses tersebut, dan meneliti ingatan jangka panjangnya untuk mendapatkan suatu informasi yang dapat digunakan untuk membuat penyelesaiannya menjadi lebih baik.

Untuk mengetahui pemanfaatan aktivitas siswa dalam menyelesaikan masalah perlu dilakukan suatu analisis terhadap karakteristk-karakteristik metakognsi yang muncul ketika berlangsungnya proses penyelesaian masalah. Karakteristik-karakteristik tersebut dapat dianalisis atau dikonstruksi melalui suatu kajian terhadap respons-respons yang diberikan siswa.

Dalam hubungannya dengaan pembelajaran, Dawson & Fuhcer (2008) mengemukakan bahwa siswa-siswa yang menggunakan metakognitifnya dengan baik akan menjadi pemikir yang kritis, problem solver yang baik, serta pengambil keputusan yang baik dari pada mereka yang tidak menggunakan metakognisinya.  Di samping itu Marthan & Koedinger (2005) menyatakan bahwa  guru dapat meningkatkan penggunaan strategi metakognitif dalam membahas suatu konsep yang baru dengan  mengingatkan kembali apa yang sudah diketahui siswa sebelumnya.

Strategi Pengembangan Metakognisi.

            Metakognisi merupakan suatu aktifitas mental yang tidak dapat diajarkan tetapi dapat di”infuse” dalam pembelajaran atau pelatihan. Berkenaan dengan pelatihan metakognitif,  Osman & Hannafin (Nurdin, 2007) mengemukakan bahwa kriteria pengklasifikasian strategi pelatihan metakognitif yaitu pendekatan pelatihan (training approach) dan hubungannya dengan materi pelajaran (relation to lesson content). Strategi-strategi pelatihan metakognitif berdasarkan pendekatannya, ada yang melekat (embedded) atau tergabung dalam isi pelajaran dan ada yang diajarkan secara terpisah (detached) dari materi pelajaran. Berdasarkan hubungannya dengan konten/isi pelajaran, strategi mungkin tergantung pada (dependent on), atau bebas dari (independen of) konten/isi pelajaran. Strategi content-dependent  terfokus secara eksplisit pada konsep-konsep yang dipelajari dari konten khusus. Sebaliknya strategi content-independent adalah bebas dari konten, yakni strategi umum yang tidak spesifik pada materi-materi pelajaran tertentu. .

            Selanjutnya Nurdin (2007) mengemukakan beberapa contoh strategi guru dalam meningkatkan kemampuan metakognitif siswa, antara lain: (1). Mintalah siswa untuk memonitor apa yang mereka pelajari dan pikirkan, termasuk memonitor pekerjaan temannya dalam kelompok, (2). Mintalah mereka untuk mengungkapkan kembali informasi yang disajikan dalam text yang dibaca, (3). Mintalah siswa untuk mengajukan suatu pertanyaan, (4). Meminta siswa untuk bagaimana mentransfer pengetahuan, sikap dan keterampilan  dalam menghadapi masalah.

Pengajuan pertanyaan merupakan salah satu strategi sederhana dalam mengembangkan metakognisi siswa. Hal ini dapat dilakukan secara klasikal maupun  secara  individu atau kelompok dalam bentuk pengajuan masalah.  Beberapa strategi untuk mengembangkan metakognisi seseorang menurut   Blakey dan Spence (1990) adalah sebagai berikut: (1). Mengidentifikasikan “apa yang anda tahu” dan “apa yang anda tidak tahu.” Mengawali suatu aktivitas, siswa perlu membuat keputusan yang disadari tentang pengetahuannya. Pertama-pertama siswa menulis: “apa yang sudah saya ketahui tentang …,” dan “apa yang ingin saya pelajari tentang ….” , (2). Menyuarakan pikirannya  (Talking about thinking), (3). Dalam merencanakan dan menyelesaikan masalah, guru seharusnya menyuarakan pikirannya sehingga siswa dapat mengikuti pendemonstrasian proses berpikir tersebut. (4). Mengumpulkan pemikirannya dalam bentuk jurnal Jurnal atau catatan harian merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan metakognisi siswa. Melalui jurnal siswa dapat merefleksikan pemikiran mereka dalam bentuk catatan tentang kesadaran terhadap  ketidakkonsistenan dan kebingungan mereka serta mengomentari bagaimana mereka peduli dengan kesulitan yang dihadapi, (5). Perencanaan dan Pengaturan Diri Sendiri (Self Regulation)  Siswa sebaiknya meningkatkan tanggungjawabnya dalam merencanakan dan mengatur pembelajarannya sendir, (6).   Melaporkan kembali proses berpikir tersebut (debriefing the thinking process). Aktivis terakhir dalam mendiskusikan proses berpikir adalah untuk mengembangkan kesadaran  terhadap strategi-strategi  yang dapat diaplikasikan dalam situasi pembelajaran yang lain, (7).  Mengevaluasi diri (Self  Evaluation). Proses evaluasi diri dapat diperkenalkan melalui pertemuan-pertemuan individual dan daftar pertanyaan yang berpusat pada proses berpikir.

Salah satu strategi menurut Kelly  (2006) yang digunakan dalam melatih siswa tentang pemikiran metakognitif dan untuk membantu siswa menyelesaikan masalah secara kooperatif  adalah strategi THINK  (Talk, How, Identify, Notice, Keeping).  Proses penyelesaian masalah akan diawali dengan  membaca dan mencoba memahami masalahnya atau membicarakan makna dari masalah tersebut, dalam hal ini diistilahkan dengan “TTalk.” Pada bagian ini mereka  menguraikan situasi yang terjadi dalam masalah dan menjelaskan apa yang ditanyakan serta mengidentifikasikan informasi penting dalam masalah. Selanjutnya difokuskan pada bagaimana masalah dapat diselesaikan atau pada tahapan yang diistilahkan dengan  “HHow,”. Di samping bertukar pikiran (ide) untuk menyelesaikan masalah siswa juga ditanyakan untuk memutuskan dan menjelaskan mengapa mereka berpikir menyelesaikan masalah tersebut.  Ketika mereka memperoleh ide untuk menyelesaikaan masalah tersebut, selanjutnya dalam tahapan “IIdentify,” diidentifikasikan strategi atau rencana penyelesaian masalah.  Aspek penting di sini adalah siswa diminta untuk berpikir dan mengevaluasi kelebihan dan kelemahan dari rencana/strategi yang digunakan.  Untuk mengetahui pemahaman siswa, mereka diminta untuk memberitahukan bagaimana strategi yang dipakai membantu menyelesaikan masalah, dan tahapan ini disebut sebagai tahapan “NNotice”. Tahapan dari strategi ini adalah siswa diminta untuk mengecek apa yang dilakukan melalui “KKeep Thinking” tentang masalah dan menentukan apakah penyelesaian masalah tersebut bermakna. Menurut Kelly, berdasarkan hasil penelitiannya, penggunaan panduan THINK merupakan salah satu alat latihan  metakognisi untuk menuntun interaksi antar siswa  dalam menyelesaikan masalah.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa  strategi pengembangan metakognisi adalah suatu cara yang dapat digunakan  untuk  mengaktifkan dan meningkatkan  metakognisi seseorang. Guru dapat memilih strategi mana yang tepat dan ini tentunya di dasarkan pada perefleksian terhadap berbagai pengalaman yang terjadi selama proses pembelajaran. Di samping itu  penilaian terhadap kemampuan metakognisi seseorang dapat dilakukan selama aktivitas pembelajaran berlangsung dengan mendengarkan pembicaraan siswa selama berdiskusi atau merevieu jurnal yang dibuat berkaitan dengan pembelajaran.

 Beberapa penelitian yang berkaitan dengan metakognisi dalam pembelajaran matematika menunjukkan bahwa metakognisi diperlukan  dalam pembelajaran matematika, misalnya dalam hubungannya dengan  miskonsepsi, kesalahan dan hal-hal yang kurang dalam mengembangkan ide-ide matematika.  Dalam proses penyelesaian masalah matematika siswa tentunya memahami masalah, merencanakan strategi penyelesaian, membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan, serta melaksanakan keputusan tersebut. Dalam proses tersebut mereka seharusnya memonitoring dan mengecek kembali apa yang telah dikerjakannya. Apabila keputusan yang diambil tidak tepat, maka mereka seharusnya mencoba alternatif lain atau membuat suatu pertimbangan. Proses menyadari adanya kesalahan, memonitor hasil pekerjaan serta mencari alternatif lain merupakan beberapa aspek-aspek metakognisi yang perlu dalam penyelesaian masalah matematika.

Menurut Sjuts (1999), keberhasilan dalam pembelajaran matematika dapat diketahui melalui aktivitas metakognisi. Beberapa aspek metakognisi dapat dikembangkan menggunakan strategi pengembangan metakognitif, misalnya penyelesaian masalah secara berpasangan (Pair Problem solving). Dalam pelaksanaannya satu siswa berbicara mengenai masalah tersebut, menguraikan proses berpikirnya, pasangannya mendengar dan menanyakan pertanyaan untuk membantu mengklarifikasikan pemikirannya.  Pasangan kolaborasi ini disebut oleh Luis (2006) sebagai Thinker and Listener. Pasangan ini berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

Thinker bertindak sebagai orang yang mencoba menyelesaikan masalah dengan menyuarakan pikiran sementara Listener bertindak sebagai orang yang mendengarkan dan mengajukan pertanyaan untuk mengecek kebenaran pemikiran dari pasangannya. Pekerjaan kolaborasi sebagai bentuk pembelajaran yang praktis dapat membantu siswa mengembangkan strategi metakognisi mereka. Artzt & Armour Thomas, (Luis, 2006) mengemukakan bahwa setting kelompok kecil dapat memunculkan  pengungkapan kata-kata siswa secara spontan dan memungkinkan mereka untuk meningkatkan idenya melalui pengujian yang bersifat kritis.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa dalam mengembangkan kemampuan metakognisi siswa diperlukan beberapa strategi yang sebaiknya diterapkan dalam kelompok-kelompok kecil. Salah satu strategi yang sederhana dalam mengembangkan metakognisi siswa adalah melalui strategi pengajuan pertanyaan.  Di samping itu  penilaian terhadap kemampuan metakognisi seseorang dapat dilakukan selama aktivitas pembelajaran berlangsung dengan mendengarkan pembicaraan siswa selama berdiskusi atau merevieuw jurnal yang dibuat berkaitan dengan pembelajaran.

Pengembangan Metakognisi dalam Pembelajaran Matematika.

Berdasarkan berbagai strategi pengembangan metakognisi di atas, maka salah satu strategi yang dapat digunakan untuk membantu mahasiswa dalam memahami suatu konsep matematika adalah melalui pembuatan Jurnal belajar.  Hal ini didasarkan juga pada kenyataan bahwa salah satu faktor kegagalan sebagian mahasiswa adalah karena mereka tidak memiliki catatan tentang apa yang dipelajarinya.

Jurnal belajar, sebagai istilah yang diterjemahkan dari learning journal  merupakan  wadah yang memuat hasil refleksi dalam bidang pembelajaran.  Dalam kemendiknas (2010), dikatakan bahwa jurnal belajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan akademis semata akan tetapi diharapkan melalui kebiasaan menuliskan pengalaman belajar, peserta didik tersebut terbiasa mengekspresikan perasaan, pemikiran ataupun harapannya tentang pembelajaran yang diberikan guru. Dengan demikian pembuatan Jurnal belajar lebih dekat sebagai alat untuk komunikasi dan diseminasi informasi, temuan, pemikiran, hasil pengamatan tentang pembelajaran. Tulisan dalam Jurnal  dapat berupa kalimat-kalimat sederhana, apakah  itu penyelesaian soal mata pelajaran tertentu atau bahkan hanya ungkapan bahwa peserta didik itu senang belajar hari itu karena guru memberi kesempatan untuk mendiskusikan masalah yang menarik.

Beberapa pertanyaan yang diminta untuk di jawab dalam jurnal belajar ketika mengakhiri  perkuliahan adalah : materi apa yang baru saja anda pelajari, apakah anda mengerti semua materi tersebut, atau apakah ada materi yang tidak anda pahami, jika ada, tuliskan materi tersebut.

Dari analisis terhadap beberapa jawaban yang tertulis dalam Jurnal, diketahui bahwa ada kelompok mahasiswa yang mengatakan memahami keseluruhan materi, ada yang mengemukakan bahwa mereka memahami sebagian tetapi tidak ada yang mengatakan tidak memahami sama sekali. Bagi mereka yang kurang memahami, mereka mengatakan bahwa mereka akan bertanya pada teman atau mencari sumber yang lain, mencoba  mengerjakan tugas yang diberikan. Dari informasi yang tertulis, dapat dilihat beberapa indikator pemanfaatan metakognisi seperti pengetahuan tentang kelemahan diri sendiri dan memahami kelebihan orang lain,  serta pengetahuan tentang tugas-tugas yang diberikan.

Dalam proses pembelajaran, pemanfaatan metakognisi dapat diketahui ketika mahasiswa diberi kesempatan menyelesaikan  masalah.  Berikut salah satu contoh pengungkapan pemanfaatan metakognisi dalam menyelesaikan soal persamaan diferensial.

Diberikan soal berikut.

Diketahui persamaan diferensial :  , mempunyai penyelesaian :

   dan .  Carilah penyelesaiannya  yang memenuhi     kondisi :

Sebelum  mahasiswa menyelesaikannya mereka diminta untuk membaca sekitar 5 menit (tanpa menulis), kemudian menjawab pertanyaan berikut:  Apakah anda memahami  soal tersebut?  Dapatkah anda menyelesaikannya?  Setelah diberi kesempatan menjawab, kemudian mereka diminta untuk menjawab pertanyaan lanjutan:  Bagaimana  cara anda mengerjakannya?  (mereka diberi kesempatan untuk mengerjakan),  Selesai mengerjakan, mereka diminta untuk menjawab pertanyaan berikut. Apakah pertanyaannya sudah terjawab?  Bagaimana anda mengetahuinya? Apakah anda yakin dengan apa yang anda kerjakan?  Pertanyaan-pertanyaan terakhir berkaitan dengan pemanfaatan strategi  metakognitif khusunya pemonitoran dan pengevaluasian.

Dari analisis terhadap pekerjaan dan jawaban yang diberikan, diketahui bahwa ada mahasiswa yang  menyadari bahwa mereka belum dapat menyelesaikan dengan baik, ada yang meyakini kebenaran pekerjaannya dan ada yang tidak meyakini apa yang dikerjakannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa secara tertulis aktifitas metakognisi dapat terdeteksi,  tetapi perlu dilanjutkan dengan wawancara secara mendalam. Hasil analisis menunjukkan bahwa mereka yang memanfaatkan aktifitas metakognisinya dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

Kajian ini menunjukkan bahwa Jurnal belajar sebagai salah satu strategi yang digunakan untuk mengaktifkan metakognisi siswa dapat meningkatkan pemahaman terhadap materi yang dipelajari, sekaligus merupakan bahan bagi dosen untuk merefleksikan diri baik dalam mempersiapkan bahan ajar maupun pengajaran yang dilakukan.

Di samping penggunaan jurnal, aktifitas pemantauan metakognisi lain yang ditemui dalam kelas matematika adalah melalui pembelajaran dalam bentuk kelompok. Beberapa aktifitas metakognisi yang dapat di amati adalah mahasiswa membaca masalah, menggaris bawahi dan melingkari beberapa kata. Ketika ditanyakan alasan menggaris bawahi maupun melingkari kata-kata tersebut, mereka mengatakan bahwa hal itu dilakukan untuk mempermudah dalam mengingat informasi penting dalam masalah yang di baca. Ini menunjukkan bahwa secara sadar mereka memanfaatkan strategi-strategi belajar.

 Interaksi yang terjadi antara mahasiswa juga memunculkan kesadaran mereka terhadap kesalahan yang di buat dan memutuskan untuk memperbaiki kesalahan tersebut.  Dalam proses ini mereka saling memantau aktifitas berpikir mereka dan saling memperbaiki kesalahan perhitungan maupun kesalahpahaman terhadap konsep yang dipelajari. Hal ini menunjukkan bahwa salah satu cara memunculkan kesadaran terhadap apa yang dilakukan adalah dengan strategi pemonitoran kognitif yang dilakukan oleh orang lain melalui diskusi maupun pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan kita.  Ketika kita menyadari kesalahan kita, maka melalui pemanfaatan strategi pengevaluasian kognitif kita dapat memutuskan untuk memperbaiki kesalahan tersebut.  Pemanfaatan metakognisi secara baik akan membantu pebelajar maupun guru dalam meningkatkan prestasi kerja merka.

PENUTUP.

Keberhasilan pembelajaran akan sangat tergantung dari peranan guru sebagai pengambil keputusan. Pengambilan keputusan dilakukan melalui perefleksian atau perenungan terhadap proses pembelajaran yang akan dilakukan, mulai dari bagaimana merencanakan pemebelajaran, melaksanakan pembelajaran dan mengakhiri pembebelajaran. Aktifitas perefleksian merupakan salah satu indicator metakognisi yang sangat berperanan dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Siswa yang terlibat dalam proses belajar mengajar akan berhasil apabila memanfaatkan semua komponen metakognisinya dalam mengikuti pembelajaran maupun menyelesaikan masalah. Pengembangan metakognisi siswa dapat dilakukan melalui pengajuan pertanyaan secara klasikal, kelompok-kelompok kecil, berpasangan maupun secara individu maupun kelompok. Di samping itu Melalui jurnal siswa dapat merefleksikan pemikiran mereka dalam bentuk catatan tentang kesadaran mereka terhadap  ketidakkonsistenan dan kebingungan mereka serta mengomentari bagaimana mereka peduli dengan kesulitan yang dihadapi.

DAFTAR PUSTAKA .

Anderson,O.W. & Krathwohl, D.R. 2001. A Taxonomy for Learning Teaching, and Assessing (A Revision of Blooms Taxonomy of Educational Objectives), Addision Wesley, Longman, New York.

Blakey, E. & Spence, S. 1990. Developing Metacognition, Clearinghouse on Information Resources Syracusa, New York.

Dawson, Th & Fucher, K  2008, Metacognition and Learning Adulthood, Contemporary Education Psychology, 11, 233-236.

Desoete, A. 2001. off-line metacognition in Children with Mathematics Learning Disabilities, Disertation, Universiteit Gent.

Flavell, J.H. 1976. Metacognition and Cognitive Monitoring, A New Area of Cognitive Developmental Inquiry, American Psychologist, 34, pp.906-911.

Gama, C. 2004. Integrating Metacognition Instruction in  Interactive Learning Environment, University of Sussex, http://www. Integrating Metacognition,  diakses 15 September, 2006.

Hunter,M (2004), Enhanching Teaching, MacMillan College Publication, Co, New York.

Kayashima,M & Inaba,A. 2007. The Model of Metacognitive Skill and How to Facilitate Development of the Skill, Faculty of Arts and Education, Tamagawa University, Japan

Kelly, R.T. 2006. Teaching Problem Solving, Journal of Research in Mathematics Education,  NCTM ,Reston,VA.

Kemendiknas, 2010, Panduan Penyusunan Jurnal Belajar,  Program Bermutu , Jakarta.

Livingston, J.A. 1997. Metacognition: An Overview; available:

            http:// www.qse.buffalo.edu/fas/schuell/cep564/metacog.htm, diakses, 20 September 2006.

Luis, T. etc. 2006. Thinker-Listener Pair Interactions to Develop Student’s Metacognitive Strategies for Mathematical Problem Solving ,Nanyang Technology University,Singapore.

Marthan, S & Koedinger, K, 2005, Fostering the Intelligent novice: Learning from Error with Metacognitive Tutoring, Educational Psychology, 89(4), 686-695.

Mudzakir, M.D. 1998. Metakognisi Dosen Dalam Proses Pembelajaran, Disertasi, Tidak dipublikasikan. Program PascaSarjana, Universitas Negeri Malang,

Nurdin. 2007, Model Pembelajaran yang Menumbuhkan Kemampuan Metakognitif, Disertasi tidak dipublikasikan, Program Pascasarjana Unesa, Surabaya.

Panoura, A. dkk. 2005. Young Pupil’s Metacognitive Ability In Mathematics, European Research in Mathematics, Departeman Of Education, University of Cyprus,Cyprus.

Schoenfeld, A.1992. Hand Book of Researh on Mathematics Teaching and Learning, Mc Millan Co.New York.

Sjuts, J.L.1999. Metacognition in Mathematics Lessons,. Available : http://www/ web.doc.sub.gwdg.de/book/e/gdm/1999, index.html,pp.76-87, diakses 15 Maret 2006.

Veenman, M, 2006, Metacognition and Learning: Conceptual and Methodological Consideration,  Spinger Sciense Book, Co, Netherland.

Yong, H.T.Y. & Kiong, L.N.K. 2006. Metacognitive Aspect of Mathematics Problem Solving,  MARA University of Technology Malaysia, Kuala Lumpur.