Tags

PMRI TELAH MENYEBERANG KE WILAYAH BENTENG DUURSTEDE DAN SEKITARNYA

Oleh :Chyntia Pasalbessy

Selain terkenal dengan keindahan alamnya, adat, keramahan penduduknya, makanan daerahnya, seperti bagea, serut dan sagu tumbu, Pulau Saparua juga di kenal dengan adanya Benteng Duurstede. Benteng Duurstede adalah salah satu hasil kebudayaan peninggalan Belanda yang cukup terkenal di Pulau Saparua. Benteng Duurstede merupakan objek wisata yang sering di kunjungi oleh masyarakat yang berasal dari luar Pulau Saparua bahkan warga Negara asing. Karena Benteng Duurstede merupakan tempat pertahanan Belanda pada zaman penjajahan yang memiliki keunikan tersendiri dan selain itu juga kita bias menikmati pemandangan laut yang sangat indah dari Benteng Duurstede. Ini juga merupakan alasan bagi saya dan TIM PMRI tertarik untuk melakukan pelatihan PMRI di Pulau Saparua.

Matematika bagi sebagian siswa, khususnya siswa sekolah dasar, dirasakan sebagai suatu momok. Ada rasa takut atau gelisah ketika akan mengikuti pelajaran matematika. “Saya tidak suka belajar matematika Karena matematika adalah pelajaran yang sangat sulit dan saya sangat takut dan tegang setiap kali belajar matematika di kelas”. Demikianlah jawaban beberapa siswa sekolah dasar ketika di tanyakan perasaan dan pendapat mereka terhadap pelajaran matematika. Masalah ini bukan hanya di rasakan dan di alami oleh siswa saja,  tetapi guru juga merasa kesulitan dalam menjelaskan pelajaran matematika kepada siswa. Sehingga sebagian besar guru sekolah dasar lebih suka menggantikan pelajaran matematika dengan pelajaran yang lain.

Pendapat siswa dan guru sekolah dasar terhadap pelajaran matematika seperti yang telah dikemukakan diatas, mulai berubah ketika saya dan teman –teman mahasiswa lainnya yang telah dibimbing oleh TIM PMRI Unpatti bersama – sama melakukan pelatihan PMRI di wilayah Benteng Duurstede dan sekitarnya. Di Pulau Saparua Kabupaten Maluku Tengah, tepatnya di Desa Haria.

Pelatihan yang berlangsung dari tanggal 18 – 19 Maret berlangsung dengan baik dan sangat menyenangkan. Karena para guru yang mengikuti pelatihan PMRI dan juga para siswa sangat antusias dalam menerima materi yang di sampaikan.

Gambar 1.Suasana pelatihan PMRI di Saparua

          Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut di bagi menjadi beberapa aktivitas. Pada Jumat, 18 Maret 2011 TIM PMRI Unpatti tiba di Saparua tepatnya di SD Inpres 1 Haria, Desa Haria.Setelah kegiatan pelatihan PMRI ini resmi dibuka oleh ketua UPTD Dinas Pendidikan tingkat Kecamatan Saparua. Kegiatan pelatihan PMRI di mulai dengan pengenalan dan penjelasan tentang pendekatan PMRI yang di bawakan oleh Dr. Th. Laurens, M.Pd. Di dalam penjelasannya, beliau menekankan pentingnya pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Dengan menggunakan fenomena gunung es, beliau menjelaskan fenomena pembelajaran matematika selama ini kemudian membandingkannya dengan fenomena pembelajaran matematika dengan pendekatan matematika realistik. Selain memperkenalkan dan menjelaskan tentang PMRI, beliau juga memberikan contoh tentang situasi belajar di dalam kelas dengan menggunakan pendekatan PMRI, dimana paraguru berperan sebagai siswa dan beliau berperan sebagai guru.

Gambar 2.Aktivitas para guru di dalam kelompok saat pelatihan PMRI

Di dalam kegiatan pelatihan PMRI ini, TIM PMRI Unpatti juga memperkenalkan beberapa materi dengan menggunakan pendekatan PMRI. Diantaranya materi tentang Bilangan Bulat dengan menggunakan tutup botol bekas. Pada awal pengenalan konsep penjumlahan bilangan bulat, guru masih mengalami kebingungan tentang cara penggunaannya, tetapi setelah dikerjakan dalam kelompok dan diikuti dengan penjelasan secara individu maupun dalam kelompok, maka guru secara perlahan – lahan dapat mengikutinya, walaupun masih ada yang belum memahaminya. Berikut adalah aktivitas guru dalam menggunakan tutup botol untuk melakukan penjumlahan bilangan bulat.

 

Gambar 3.Suasana pengenalan konsep bilangan bulat dengan menggunakan tutup botol bekas.

Sebagai refressing, para guru diperkenalkan dan diajakbermain Perkalian Kanada. Para guru sangat antusias dan senang dalam bermain perkalian kanada ini. Karena setelah mereka mencobanya di dalam kelompok, masing – masing kelompok memilih perwakilannya untuk bertanding melawan perwakilan dari kelompok lain. Pertandingan pun berlangsung sangat seru dan membuat kami semua yang hadir menjadi sangat senang, bahkan ada yang tertawa terbahak – bahak karena melihat tingkah laku para guru saat mengikuti pertandingan.

Gambar 4.Suasana pertandingan Perkalian Kanada antar kelompok

Selama pengenalan dan penjelasan tentang PMRI kepada para guru berlangsung di dalam ruangan, beberapa teman mahasiswa menjelaskan beberapa materi dengan menggunakan pendekatan PMRI kepada parasiswa di dalam kelas. Tofan menjelaskan tentang Perkalian dan Pembagian pada kelas dua dengan menggunakan kacang tanah dan juga gelas aqua, Effi menjelaskan tentang Aritmatika Sosial pada kelas tiga dengan bermain jual beli, dan Ana menjelaskan tentang Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan pada kelas lima dengan menggunakan kartu pecahan. Para siswa sangat antusias dan senang dalam belajar matematika. Tidak ada rasa takut yang terlihat di raut wajah mereka.

Gambar 5. Aktivitas siswa saat belajar perkalian dan pembagian dengan menggunakan kacang tanah dan gelas aqua (sebelah atas) serta Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan dengan menggunakan kartu pecahan (sebelah bawah).

Pada Sabtu, 19 Maret 2011 TIM PMRI Unpatti lebih banyak menghabiskan waktu di kelas bersama dengan para siswa. Kami di bagi kebeberapa sekolah, yaitu SD Inpres 1 Haria dan SD inpres 2 Haria. Di dalam kelas, kami menjelaskan beberapa materi kepada para siswa dengan menggunakan pendekatan PMRI. Diantaranya materi tentang Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Sampai 500 padasiswakelasduadenganmenggunakan Diagram Kantung yang di bawakan oleh saya, materi tentang Bilangan Bulat pada siswa kelas empat dengan menggunakan tutup botol bekas yang dibawakan oleh Sonny, Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan pada siswa kelas lima dengan melipat kertas yang dibawakan oleh Lia, dan juga beberapa materi lainnya. Pada saat kami membawakan materi di dalam kelas, para guru juga mengambil bagian dan turut menyaksikan cara mengajar kami. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada para guru bagaimana suasana mengajar di kelas dengan menggunakan pendekatan PMRI, dan selain itu juga kami selaku mahasiswa bias memperoleh masukan dari para guru yang sudah memiliki pengalaman mengajar yang dapat bermanfaat bagi kami dalam penyusunan dan perbaikan proposal.

Gambar 6.Aktivitas siswa saat belajar Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Sampai 500 dengan menggunakan Diagram Kantung (sebelah atas) serta Penjumlahan dan Pengurangan Pecahan dengan melipat kertas (sebelah bawah).

Pada akhir kegiatan pelatihan PMRI, para guru dan siswa mengungkapkan rasa syukur mereka atas pelatihan yang sudah boleh dilaksanakan. Karena dengan menerapkan pendekatan PMRI dalam pembelajaran matematika, para guru tidak merasa kesulitan lagi dalam menjelaskan pelajaran matematika kepada siswa. Begitu juga para siswa yang tidak merasa takut dan malas saat belajar matematika di kelas. Tetapi merekadapat belajar sambil bermain dan juga dapat mengungkapkan pendapat mereka tanpa ada rasa takut.

Kegiatan pelatihan PMRI ini berlangsung dengan sukses, menyenangkan dan memberikan kesan tersendiri bagi saya dan teman – teman mahasiswa lainnya. Karena selain merupakan pengalaman yang luar biasa, kami juga dapat memperoleh banyak pelajaran yang bermanfaat bagi kami dalam menyusun dan memperbaiki proposal kami kedepan.

Tim PMRI Unpatti tidak akan berhenti sampai di sini saja. Tetapi kami juga akan terus memperkenalkan pendekatan PMRI kepada para guru yang berada di Provinsi Maluku. Selain itu juga Tim PMRI Unpatti akan melakukan penelitian…. dan kami juga sedang mengembangkan perangkat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan PMRI yang mengadopsi kebudayaan Maluku. Sehingga dapat diperkenalkan dan digunakan oleh para guru di Provinsi Maluku dalam pembelajaran matematika agar matematika menjadi pelajaran yang menarik dan senang di pelajari oleh para siswa.